Hubungan yang dimaksud bisa saja hubungan yang belum atau sudah terikat pernikahan karena gaslighting bisa saja terjadi di kedua pola hubungan ini. Atau hubungan di tempat lain, seperti di sekolah, tempat kerja, organisasi dan lain sebagainya karena gaslighting pada prinsipnya mempengaruhi hubungan interpersonal. Gaslighting terkait dengan kepribadian individu. Kebanyakan kasus-kasus yang muncul adalah pada hubungan asmara (non pernikahan) yang disebabkan karena pola perjalanan yang berbeda dengan hubungan yang sudah terikat.

Tetapi, bukan berarti pada hubungan pernikahan, gaslighting ini tidak muncul, malah mungkin kasusnya lebih kompleks. Ditambah lagi dengan adanya anggapan bahwa antara hubungan yang toxic dengan aib keluarga itu tidak ada sekat sehingga pada umumnya status terikat ini menjadi alasan utama pasangan (korban) untuk menyembunyikan aib keluarganya. Alasannya klasik, karena ingin mempertahankan rumah tangga. Oleh karena itu, meskipun gaslighting kemungkinan juga banyak terjadi dalam hubungan pernikahan, tapi cenderung masih belum tren untuk di sorot.

Karena itu, konsep hubungan yang dimaksud adalah hubungan yang menyeluruh, tidak membedakan statusnya dan tempat. Intinya adalah hubungan interpersonal yang terbentuk dari adanya interaksi antar manusia.

“Apa sih Gaslighting dalam hubungan itu?”

Ada banyak sekali penjelasan tentang gaslighting di internet. Kata kunci dari gaslighting adalah “Manipulasi”. Gaslighting termasuk ke dalam kekerasan secara emosional karena bisa menekan mental seseorang hingga berada di tahap mempertanyakan kewarasannya atau kenormalannya dalam berpikir. Bahasa mudahnya adalah korban dari pelaku gaslighting akan dengan mudah meragukan dirinya sendiri hingga tanpa disadari akan merasa tidak aman, kehilangan harga diri, persepsi dan bahkan identitas. Gaslighting juga bisa dikatakan sebagai pengaruh negatif untuk korban tentang dirinya sendiri. Parahnya, pelaku gaslighting mampu membuat hubungan korbannya berjarak, baik itu dengan keluarga maupun teman-teman
dekatnya. Satu-satunya akses yang tersedia adalah hubungan ke pelaku.

Bisa dibayangkan bagaimana kejamnya hubungan yang seperti ini.
Mungkin bagi kita yang sedang tidak mengalami, mudah saja untuk mencerna hal ini dan seperti mampu membedakan mana hubungan yang salah dan mana yang benar. Tapi bagi mereka yang menjadi korban, akan terasa sangat sulit membedakannya dalam hubungan. Semua proses ini terjadi tanpa disadari, perubahan dari diri korban pun berjalan tanpa disadari, mungkin hanya orang-orang terdekat yang menyadarinya, namun itu pun sudah tidak didengarkan lagi. Karena banyak dari korban memilih untuk bungkam sehingga bisa jadi ada teman/keluarga yang mengetahui permasalahan atau mungkin ada yang tidak tahu sama sekali dan hanya merasakan perubahan saja.

Dampak dari gaslighting adalah menjadikan korban sulit untuk membedakan mana yang salah atau benar. Kebanyakan korban melaporkan, mereka juga merasa kebingungan dan mudah sekali memunculkan perasaan bersalah meskipun hal itu bukan salahnya. Pelaku seringkali atau pada umumnya tidak ingin disalahkan dan sangat berupaya untuk mencari berbagai macam alibi untuk melindungi dirinya.

Sayangnya, alibinya berbentuk penyalahan terhadap korban sehingga karena doktrin negatif berbentuk penyalahan dilakukan secara terus menerus, pada akhirnya hal ini mampu membuat si korban menjadi ketergantungan baik secara pikiran maupun perlakuan.

Berikut hasil rangkuman ciri-ciri dari pelaku gaslighting dalam hubungan berdasarkanberbagai sumber:

  1. Sering berbohong
    Biasanya akan dimulai dengan kebohongan-kebohongan kecil yang kemudian akan berkembang menjadi kebohongan besar. Namun, kebohongan ini selalu berujung pada menyalahkan diri korban tentang sesuatu hal sederhana namun terlalu dibesar-besarkan. Misal, perkara tidak mengangkat telepon atau membalas chat. Ketahuilah, pelaku gaslighting ini membuat kebohongan dengan percaya diri sehingga orang yang mendengarkan akan merasa percaya karena seolah dituntun untuk masuk ke dalam pikiran mereka yang dibuat-buat.
  2. Sangat mengetahui kelemahan korbannya dan senang bermain-main dengan rasa tidak aman korban (insecurity)
    Mereka akan dengan konsisten memberikan kritik terhadap hal-hal yang membuat korban merasa lemah dan tidak berdaya. Misal, senang membuat komentar sinis tentang hal-hal yang ditakuti oleh korbannya. Seperti, “Iih pinggulmu lebih berisi ya” atau “kayaknya mau memakai baju apapun, kamu tetap kelihatan gendutan deh”. Namun sejatinya, hal ini yang membuat harga diri korban dipermainkan dan secara otomatis akan membuat pelaku terlihat lebih unggul dan benar. Tapi hati-hati juga dengan pujian mereka, biasanya itu pun bohong dan selalu penuh maksud tertentu. Seperti, “kamu pintar ya mengatur keuangan. Tau mana keperluan dan mana yang bukan. Boleh ya aku nebeng makan siang, aku gak sepintar kamu mengatur keuangan, makanya suka habis sebelum waktunya.”
  3. Ketidakkonsistenan antara kata-kata dan perilaku.
    Bisa dikatakan bahwa pelaku gaslighting ini mampu “mengiyakan” pernyataan yang ingin kita dengar darinya dan kemudian tetap melakukan apa yang mereka inginkan sesuka hatinya. Misal, seperti seseorang yang suka memberikan janji-janji manis namun tidak pernah ditepati.
  4. Memiliki keahlian dalam memanipulasi hubungan
    Tujuan manipulasi ini adalah untuk menjauhkan korban dari lingkungan inti atau terdekatnya. Jadi, mereka berusaha untuk memasukkan berbagai pengaruh negatif yang membuat si korban percaya dan merasa tidak berdaya. Dengan kata lain, si pelaku mampu menutup akses ke berbagai perspektif lainnya di luar diri pasangan tersebut, sehingga satu-satunya akses untuk mempertanyakan pikiran dan berbagai hal lainnya hanyalah ke pelaku. Seperti: “Kamu selalu jadi topik obrolan dimanapun, apa kamu gak menyadarinya?. Semua orang beranggapan buruk tentang kamu.”
  5. Suka mempertanyakan kesadaran/kewarasan korban
  6. Memiliki kecurigaan yang tinggi. Suka menuduh si korban memiliki rencana-rencana atau pikiran-pikiran buruk tentangnya.
  7. Semakin lama semakin merasa tidak yakin sama diri sendiri. Ini adalah dampak yang terjadi secara perlahan dan prosesnya tidak disadari. Tapi ketidaknyamanan yang muncul dari diri sendiri, bisa jadi diakibatkan oleh adanya pelaku gaslighting di sekitarmu.

Orang dengan gaslighting ini memang membahayakan, apalagi jika ia berada di tengah- tengah mereka yang memiliki kerentanan psikologis yang cenderung tinggi, misal mudah stress dan panik sehingga pengaruh yang ditularkan pelaku akan cenderung meningkatkan potensi kehilangan diri sendiri bahkan bisa jadi akan memunculkan ide-ide atau pikiran bunuh diri.

Tidak mudah untuk mendeteksi pelaku di sekitar kita karena yang namanya permasalahan kepribadian terjadi secara tidak disadari sehingga banyak yang tidak menyadari apakah ia berpotensi merusak atau mengganggu orang lain atau berpotensi menjadi korban.

Reference:

  1. Psychology Today: Gaslighting
  2. Thomas, NK. (2017). Gaslighting, betrayal and the boogeyman: Personal reflections on the APA, PENS and the involvement of the psychologists in torture. American Psychological Association.
  3. Morris, SY. (2020). How to Recognize Gaslighting and Get Help. www.healthline.com

Penulis: Rifdha Wahyuni, M.Psi., Psikolog