FoMO (Fear of Missing Out) merupakan salah satu pemicu hubungan yang tidak sehat dengan sosial media. Jadi, apa itu fomo ?

Fomo merupakan rasa takut ketinggalan momen berharga bersama orang lain. Seseorang yang mengalami FoMO selalu ingin untuk terus-menerus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain.

Lalu apa hubungan FoMO dengan sosial media ? FoMO ternyata dapat membuatmu merasa gelisah ketika tidak mengakses sosial media meski dalam waktu yang relatif singkat, lho ! Oleh sebab itu, kamu merasa harus tetap mengakses sosial media sepanjang waktu untuk terus mendapatkan informasi mengenai apa yang dilakukan orang lain.

Kedengaranya mungkin cukup menakutkan, namun tahukah kamu bahwa nyatanya FoMO lebih rentan dialami oleh remaja dibandingkan kelompok usia lain.

Hal ini dikarenakan pada usia remaja, seseorang sedang dalam proses pencarian jati diri dan mengembangkan pertemanan dengan teman sebaya.

Apa aja sih tanda seseorang mengalami  FoMO ?

  • Sulit melepaskan ponsel

Seseorang yang mengalami fomo dapat terus menggenggam ponselnya kemanapun ia pergi

  • Cemas dan gelisah jika belum menge-check sosial media

Rasa cemas dan gelisah yang dirasa berasal dari ketakutan kehilangan informasi mengenai peristiwa yang dilakukan orang lain.

  • Lebih mengutamakan komunikasi dengan teman-teman di media sosial

Tak jarang orang yang mengalami FOMO akan lebih sibuk mengecheck media sosialnya meski sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah kafe !

  • Terobsesi dengan postingan orang lain dan selalu membagikan kegiatannya di sosial media

Apa Bahaya FoMO ?

Menurut penelitian, seorang yang mengalami FOMO akan merasa cemas dan stress. FOMo juga mempengaruhi seseorang dalam hubungan positif dengan orang lain dan penerimaan diri. Oleh karena itu, seseorang dengan tingkat FoMO cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. 

  1. Kesulitan untuk merasa puas dengan diri sendiri

Seorang yang mengalami FOMO akan merasa cemas atau khawatir dengan kegiatan yang dilakukan oleh orang lain dan merasa bahwa hal-hal yang dilakukan atau dimiliki oleh orang lain lebih menyenangkan dari apa yang mereka miliki atau alami. Dengan demikian, seseorang yang mengalami FoMO dapat dikatakan tidak puas dengan dirinya sendiri dan cenderung ingin menjadi orang lain.

  1. Kesulitan membangun hubungan yang positif dengan orang lain

FoMO lebih fokus pada apa yang terjadi di media sosialnya daripada membangun hubungan yang lebih hangat dengan orang lain melalui pembicaraan langsung. Seseorang yang mengalami FoMO mencoba berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain, tetapi tidak ada hubungan yang hangat, memuaskan, dan saling percaya dalam hubungan.

Apa yang dapat dilakukan ?

Ini dia beberapa point yang dapat dilakukan untuk mengatasi FoMO : 

  1. Catat jenis media sosial yang kamu gunakan secara teratur (misalnya, Twitter, Instagram, Facebook, WhatsApp, YouTube), beserta frekuensi penggunaan harianmu. 
  2. Mencoba mindful dengan kegiatanmu. Ketika bersosial media, coba tanyakan “apa tujuanku membuka sosial media saat ini ?”
  3. Pikirkan  bagaimana media sosial mempengaruhi perasaanmu. Apakah kamu merasa perasaanmu lebih baik setelah menggunakan media sosial? Atau malah sebaliknya, seperti merasa cemas dan khawatir.
  4. Batasi penggunaan media sosial, terutama selama kegiatan sehari-hari (misalnya, saat makan dan bersiap-siap untuk tidur).
  5. Cobalah untuk bertemu orang-orang secara langsung untuk membangun hubungan yang lebih positif. 

Source :

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7345987/

https://www.psychologytoday.com/us/blog/finding-new-home/202102/how-overcome-fomo

Abel, J. P. (2016). Social Media and the Fear of Missing Out. Scale Development and Assessment. Journal of Business & Economics Research – FirstQuarter, 14 (1): 47-65.

Fathandika, S & Afriani. (2018). Social Media Engagement Sebagai Mediator Antara Fear Of Missing Out Dengan Kecanduan Media Sosial Pada Remaja. JPSP: Jurnal Psikologi Sains dan Profesi, 2 (3): 208-215.

Safitri, A. J. (2019). Impact of Fear of Missing Out on Psychological Well-Being Among Emerging Adulthood Aged Social Media Users. Psychological Research and Intervention, 2 (2): 65-72.

Penulis: Amalia